pop up

hei! this is chindi`s blog,leave some comment on my post and i will reply it soon, Love me♡

Rabu, 16 Maret 2016

AKUNTANSI INTERNASIONAL

NAMA                        :           AULIA CHINDIYANA PRIMA
KELAS                       :           4 EB 22
MATA KULIAH       :           AKUNTANSI INTERNASIONAL
DOSEN                      :           DINI ANDRIANI
16 MARET 2016



Soal
1.      Nona Sasya mendapat kiriman uang dari pamannya yang bekerja di Amerika Serikat sebesar US$1.000. Berapa  rupiah uang  yang akan diterima Nona Sasya?
Jawab  :
US$1.000 X Rp 373,84 (Kurs Beli)
Rp 373.084.000
2.      Nona Aul mendapat kiriman uang dari kakaknya yang bekerja di Jepang sebesar ¥5.000. Berapa  rupiah uang  yang akan diterima Nona Aul?
Jawab :
¥5.000 X Rp 11.544,49 (Kurs Beli)
Rp 57.722,450
3.      Jika Tuan Rudolfo memiliki uang rupiah sebesar Rp 10.080.000,00, kemudian ia ingin menukarkannya dengan mata uang Bath (Thailand) karena ingin berlibur kesana, maka  berapa yang akan ia peroleh?
Jawab:
Rp 10.080.000,00 :  9.598,93 THB (Kurs Jual)
THB 1,050,117,04
4.      Ny. Selena Gomez menderita sakit, ia harus segera dibawa ke Jepang untuk berobat. Sedangkan biaya berobat yang harus dikeluarkan sebesar ¥ 70.000, ia mempunyai tabungan Rp 1.000.000.000. Berapa Rupiah sisa uang tabungan Ny. Selena Gomez?
Jawab :
Tabungan
 Rp 1.000.000.000
¥ 70.000 X Rp 11.665,93 (Kurs Jual)
(Rp    816.615.100)

 Rp 183.384.900
5.      Jika Tuan Uge mempunyai uang Rp 12.148.500,00 dan dia ingin menukarkan uang  rupiahnya ke dolar Amerika, berapa dolar yang akan diterima Tuan Uge ?
Jawab :
Rp 12.148.500,00 x Rp 377,82 x US$ 1
US$ 32,154.200

6.      Tuan Randi mengimpor sebuah Kereta dari amerika dengan harga  15.000 USD. Maka uang yang harus dibayarkan Tuan Randi atas pembelian Kereta tersebut adalah….
Jawab :
15.000 US x Rp 377,82 (Kurs jual)
Rp 5.667.300

7.      Berapa PGK ( Papua Nugini Kina) yang di peroleh dari penukaran Rp 50.000.000?
Jawab :
Rp 50.000.000 : 8.727,16 (Kurs jual)
Rp 5.729.240


8.      Mr. Orlando berlibur ke Indonesia dengan membawa uang $70.000 USD dan $350 AUD. Apabila Mr. Orlando menukarkan uangnya ke Bank maka uang rupiah yang diterima adalah
Jawab :
$70.000 USD x Rp  373,84 (Kurs beli)
= Rp 26.168.800
$350 AUD x Rp 9,772,72 (Kurs beli)
= Rp   3.420.452
TOTAL
= Rp 29.589.252
9.      Berapa us dolar yang diperoleh dari penukaran Rp 50.000.000 dengan kurs jual 377,82 dan kurs beli 373,84?
Jawab :
Kurs Jual = Rp 50.000.000 : 377,82
= USD 132.338.15
Kurs Beli = USD 132.338.15 X 373.84
= Rp 49.473.294

10.  Tuan Nobita berkunjung ke indonesia dengan membawa uang  700.000 Yen, Ketika ditukar ke Bank maka uang rupiah yang diterima oleh Tuan Nobita adalah….
 Jawab :
700.000 yen X  Rp 11.544.49
Rp 8.081.143.000


Senin, 09 November 2015

MEREVIEW JURNAL

ETIKA PROFESI AKUNTANSI
MEREVIEW JURNAL

                                    OLEH                         : AULIA CHINDIYANA PRIMA
                                    NPM                           : 21212248
                                    KELAS                       : 4 EB 22
                                    DOSEN                      : EARLY ARMEIN
                                    MATA KULIAH       : ETIKA PROFESI AKUNTANSI


PENGARUH PROFESIONALISME AUDITOR dan ETIKA PROFESI TERHADAP PERTIMBANGAN TINGKAT MATERIALITAS

Pengarang  :    A.M. Kurniawanda, Jurusan Akuntansi, Fakultas Ekonomi, Universitas Jambi
Penerbit      :    e-Jurnal BINAR AKUNTANSI Vol. 2 No. 1, Januari 2013 ISSN 2303 –

Pendahuluan

Di era globalisasi seperti sekarang ini, bisnis tidak lagi mengenal batas Negara, kebutuhan akan laporan keuangan yang dapat dipercaya tidak dapat dielakkan lagi. Eksternal auditor yang independen menjadi salah satu profesi yang dicari. Profesi auditor diharapkan oleh banyak orang untuk dapat meletakkan kepercayaan pada pemeriksaan dan pendapat yang diberikan sehingga profesionalisme menjadi tuntutan utama seseorang yang bekerja sebagai auditor eksternal.
Gambaran seseorang yang profesional dalam profesi eksternal auditor dicerminkan dalam lima dimensi menurut Hall R Syahrir, (2002 : 7), yaitu : 1. pengabdian pada profesi, 2. kewajiban sosial, 3. kemandirian, 4. kepercayaan pada profesi, 5. hubungan dengan rekan seprofesi. Eksternal auditor yang memiliki profesionalisme yang tinggi akan memberikan kontribusi yang dapat dipercaya oleh para pengambil keputusan. Untuk memenuhi perannya yang membutuhkan tanggung jawab yang besar, eksternal auditor harus mempunyai wawasan yang luas dan pengalaman yang memadai sebagai eksternal auditor.

Rumusan Masalah

1.      apakah profesionalisme auditor dan etika profesi secara simultan dan parsial mempunyai pengaruh terhadap pertimbangan tingkat materialitas ?


Tujuan
1.      Untuk mengetahui profesionalisme auditor dan etika profesi secara simultan dan parsial mempunyai pengaruh terhadap pertimbangan tingkat materialitas.

Data/Variabel
          Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer. Data primer dapat berupa opini subyek (orang) secara individual atau kelompok, hasil observasi terhadap suatu benda (fisik), kejadian atau kegiatan, dan hasil pengujian (Indriantoro, 2009). Data-data primer dalam penelitian ini diperoleh melalui metode survei menggunakan kuesioner yang dibagikan kepada responden.

Teori

       Gambaran seseorang yang profesional dalam profesi eksternal auditor dicerminkan dalam lima dimensi menurut Hall R Syahrir, (2002 : 7), yaitu : 1. pengabdian pada profesi, 2. kewajiban sosial, 3. kemandirian, 4. kepercayaan pada profesi, 5. hubungan dengan rekan seprofesi.
           Etika profesi merupakan kode etik IAPI dan aturan etika Kompartemen Akuntan Publik, Standar Profesi Akuntan Publik (SPAP) dan standar pengendalian mutu auditing merupakan acuan yang baik untuk mutu auditing (Agoes, 2004).
           Data primer dapat berupa opini subyek (orang) secara individual atau kelompok, hasil observasi terhadap suatu benda (fisik), kejadian atau kegiatan, dan hasil pengujian (Indriantoro, 2009).
             Jenis data yang terkumpul dari kuesioner merupakan data nominal dan ordinal, khususnya yang menyangkut identitas/karakteristik responden. Sedangkan data yang menyangkut jawaban berskala likert, pada dasarnya adalah data ordinal.                     Oleh karena itu, untuk keperluan analisis data ordinal perlu ditransformasikan notasi masing-masing jawaban tersebut menjadi data interval dengan menggunakan method of successive interval (Sumarsono, 2002) untuk  menetapkan skor.
Menurut Hair dalam Poniman (2004), kualitas data yang dihasilkan dari penggunaan instrumen penelitian dapat dievaluasi melalui uji reliabilitas dan validitas.
Validitas merupakan derajat ketepatan antara data yang sesungguhnya terjadi pada obyek penelitian dengan data yang dapat dilaporkan oleh peneliti (Sugiyono, 2008). Pendekatan yang digunakan dalam uji validitas (analisis butir) pada penelitian ini adalah dengan membandingkan nilai r (corrected item – total correlation) dengan r tabel sehingga dapat diketahui item pertanyaan mana yang gugur dan sahih. Item butir pertanyaan sahih jika r hitung > r tabel (Ghozali, 2009).
        Nunally dalam Ghozali (2009) menyatakan bahwa suatu konstruk atau variabel dikatakan reliabel jika nilai cronbach alpha > 0,60. 
               Uji normalitas bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi, variabel dependen dan independen keduanya memiliki distribusi normal atau tidak (Ghozali, 2009).
Analisis statistik deskriptif adalah yang berbentuk uraian dari hasil penelitian yang didukung oleh teori dan data yang telah ditabulasi kemudian diikhtisarkan. Analisis ini digunakan untuk memperkuat analisis kuantitatif (Sugiyono, 2008).
           Pada grafik plot, jika ada pola tertentu, seperti titik-titik yang ada membentuk pola tertentu yang teratur (bergelombang, melebar kemudian menyempit), maka mengindikasikan telah terjadi heteroskedastisitas dan jika tidak ada pola yang jelas serta titik-titik meyebar diatas dan dibawah angka 0 pada sumbu Y, maka tidak terjadi heteroskedastisitas (Ghozali, 2009).
         Nilai yang mendekati satu berarti variabel-variabel independen memberikan hampir semua informasi yang dibutuhkan untuk memprediksi variasi variabel dependen, semakin mendekati nilai 1 atau 100%, maka semakin besar pengaruh variabel independen terhadap variabel dependen (Ghozali, 2009).
        Menurut Ghozali (2005:42) suatu instrumen dikatakan reliabel jika memiliki koefisien cronbach’s alpha > 0,6. Apabila tolerance value dibawah 0,10 atau nilai VIF diatas 10 maka terjadi multikolinieritas (Ghozali, 2009). 


Alat Analisis
1.      Uji Kualitas Data
                              a)            Uji Validitas (Ketepatan)
                              b)            Uji Reliabilitas (Konsistensi)
2.      Analisis Kualitatif
3.      Uji Asumsi Klasik
                              a)            Uji Normalitas
                              b)            Uji Heteroskedastisitas
                              c)            Uji Multikolinieritas
4.      Analisis Regresi Berganda
Hipotesis
1.      Uji F
2.      Uji T
3.      Koefisien Determinasi (R2)

                                                       Hasil

1.      Uji Kualitas Data
·         Uji Validitas
Pengujian validitas instrumen dengan bantuan perangkat lunak SPSS versi 19.0, nilai validitas dapat dilihat pada kolom Corrected Item-Total Correlation. Jika angka korelasi yang diperoleh lebih besar dari pada angka kritik (rhitung > rtabel) maka instrumen tersebut dikatakan valid. Angka kritik pada penelitian ini adalah df= N-2= 57–2 = 55 dengan taraf signifikan 5% maka angka kritik untuk uji validitas pada penelitian adalah 0,265.
·         Uji Reliabilitas
Teknik statistik yang digunakan untuk pengujian tersebut dengan koefisien cronbach’s alpha dengan bantuan program software SPSS versi 19.0. Cronbach’s Alpha merupakan uji reliabilitas untuk alternatif jawaban lebih dari dua. Menurut Ghozali (2005:42) suatu instrumen dikatakan reliabel jika memiliki koefisien cronbach’s alpha > 0,6.
2.      Normalitas
·         Grafik Uji Normalitas


·         Uji Heteroskedastisitas


·         Uji Multikolinieritas
Multikolinieritas dapat dilihat pada tolerance value atau variance inflation factor (VIF). Apabila tolerance value dibawah 0,10 atau nilai VIF diatas 10 maka terjadi multikolinieritas (Ghozali, 2009).

3.      Uji Hipotesis
·         Uji F
Uji F digunakan untuk menguji tingkat signifikansi koefisien regresi variabel independen secara simultan terhadap variabel dependen, yaitu dengan memperhatikan signifikan uji F pada output perhitungan dengan tingkat alpha sebesar 5%. Jika nilai signifikan uji F lebih kecil dari 5% maka terdapat pengaruh antara semua variabel independen terhadap variabel dependen.
·         Uji t
Uji t digunakan untuk mengetahui apakah variabel independen secara parsial mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap variabel dependen, yaitu dengan memperhatikan signifikan uji t pada output perhitungan dengan tingkat alpha sebesar 5%. Jika nilai signifikan uji t lebih kecil dari 5% maka terdapat pengaruh antara semua variabel independen terhadap variabel dependen
·         Hasil Persamaan Regresi Coefficientsa


·         Analisis Koefisien Determinasi (R2)
            Koefisien determinasi (R2) mengukur berapa jauh kemampuan model dalam             menerangkan variasi variabel independen.

                                                  Hasil Analisis Koefisien Determinasi (R2)

Kesimpulan

Berdasarkan hasil pengujian diperoleh kesimpulan sebagai berikut Secara simultan Profesionalisme Auditor dan Etika Profesi memberikan pengaruh yang signifikan terhadap Tingkat Materialitas. Sedangkan secara parsial variabel Profesionalisme Auditor yang terdiri dari Pengabdian Pada Profesi, Kewajiban Sosial, Kemandirian, Keyakinan Pada Profesi, Hubungan Sesama Profesi, ada tiga variabel yang berpengaruh terhadap tingkat materialitas yaitu : kemandirian, keyakinan terhadap profesi, dan etika profesi. Sedangkan pengabdian terhadap profesi, kewajiban sosial, dan hubungan sesama profesi tidak berpengaruh terhadap tingkat materialitas.


Daftar Pustaka
            Agoes, Sukrisno (2004). Auditing, Pemeriksaan Akuntan oleh Kantor Akuntan Publik. Jakarta: LPEE-UI
            Ghozali, Imam. 2009. Aplikasi Analisis Multivariate dengan Program SPSS. Semarang: Badan Penerbit Universitas Dipenogoro.
            Hastuti, Dwi, Theresia, dkk., Hubungan Antara Profesionalisme Auditor Dengan Pertimbangan Tingkat Materialitas Dalam Proses Pengauditan Laporan Keuangan, Simposium Nasional Akuntansi VI, Jakarta, 2003.
            Herawaty, Arleen dan Yulius Kurnia Susanto. Profesionalisme, Pengetahuan Akuntan Publik dalam Mendeteksi Kekeliruan, Etika Profesi dan Pertimbangan Tingkat Materialitas. The 2nd National Conference UKWMS, Surabaya, 2009.
            Indriantoro, Nur, Bambang Supomo, Metodologi Penelitian Bisnis Untuk Akuntansi dan Manajemen Ed 1, BPFE, Yogyakarta, 1999.
            Rahmawati, Hubungan antara Profesionalisme Internal Auditor dengan Kinerja Tugas, Kepuasan Kerja, Komitmen Organisasi, Keinginan Untuk Pindah, Tesis S2, Program Pasca Sarjana Universitas Gajah Mada, Yogyakarta, 1997.
            Rifqi, Muhammad, Analisis Hubungan Antara Profesionalisme Auditor Dengan Pertimbangan Tingkat Materialitas Dalam Proses Pengauditan Laporan Keuangan, Jurnal Fenomena, Univervitas Islam Indonesia Yogyakarta, 2008.
            Sugiyono, Statistika Untuk Penelitian. Bandung. Penerbit: CV. Alfabeta, 2007.      Sumarsono, Metode Penelitian Akuntansi, Beserta Contoh Intepretasi Hasil pengolahan data. (2002).
            Syahrir, Analisis Hubungan Antara Profesionalisme Akuntan Publik Dengan Kinerja, Kepuasan Kerja, Komitmen, dan Keinginan Berpindah, Tesis S2, Fakultas Ekonomi, Universitas Gajah Mada, yogyakarta, 2002.

            Wahyudi, Hendro dan Aida Ainul Mardiyah. Pengaruh Profesionalisme Auditor terhadap Tingkat Materialitas dalam Pemeriksaan Laporan Keuangan. Simposium Nasional Akuntansi IX, Padang, 2006.

Minggu, 11 Oktober 2015

PERILAKU ETIKA DALAM BISNIS

PERILAKU ETIKA DALAM BISNIS


                                    OLEH                         : AULIA CHINDIYANA PRIMA
                                    NPM                           : 21212248
                                    KELAS                       : 4 EB 22
                                    DOSEN                      : EARLY ARMEIN
                                    MATA KULIAH       : ETIKA PROFESI AKUNTANSI




Perilaku etika dalam bisnis


1.     Lingkungan bisnis yang mempengaruhi perilaku etika
            Tujuan dari sebuah bisnis kecil adalah untuk tumbuh dan menghasilkan uang. Untuk melakukan itu, penting bahwa semua karyawan dipapan dan bahwa kinerja mereka dan perilaku berkontribusi pada kesuksesan perusahaan. Perilaku karyawan, bagaimanpun dapat dipengaruhi oleh faktor eksternal diluar bisnis. Pemilik usaha kecil perlu menyadari faktor-faktor dan untuk melihat perubahan perilaku karyawan yang dapat sinyal masalah.

a)    Budaya Organisasi
            Keseluruhan budaya perusahaan dampak bagaimana karyawan melakukan diri dengan rekan kerja, pelanggan dan pemasok. Lebih dari sekedar lingkungan kerja, budaya organisasi mencakup sikap manajemen terhadap karyawan, rencana pertumbuhan perusahaan dan otonomi / pemberdayaan yang diberikan kepada karyawan.
b)      Ekonomi Lokal
            Melihat seorang karyawan dari pekerjaannya dipengaruhi oleh keadaan perekonomian setempat. Jika pekerjaan yang banyak dan ekonomi booming, karyawan secara keseluruhan lebih bahagia dan perilaku mereka dan kinerja cermin itu. Disisi lain, saat-saat yang sulit dan pengangguran yang tinggi, karyawan dapat menjadi takut dan cemas tentang memegang pekerjaan mereka. Kecemasan ini mengarah pada kinerja yang lebih rendah dan penyimpangan dalam penilaian.
c)      Reputasi Perusahaan dalam Komunitas
            Persepsi karyawan tentang bagaimana perusahaan mereka dilihat oleh masyarakat lokal dapat mempengaruhi perilaku. Jika seorang karyawan menyadari bahwa perusahaannya dianggap curang atau murah, tindakannya mungkin juga seperti itu. Ini adalah kasus hidup sampai harapan. Namun, jika perusahaan dipandang sebagai pilar masyarakat dengan banyak goodwill, karyawan lebih cenderung untuk menunjukkan perilaku serupa karena pelanggan dan pemasok berharap bahwa dari mereka.
d)     Persaingan di Industri
            Tingkat daya saing dalam suatu industri dapat berdampak etika dari kedua manajemen dan karyawan, terutama dalam situasi di mana kompensasi didasarkan pada pendapatan. Dalam lingkungan yang sangat kompetitif, perilaku etis terhadap pelanggan dan pemasok dapat menyelinap ke bawah sebagai karyawan berebut untuk membawa lebih banyak pekerjaan. Dalam industri yang stabil di mana menarik pelanggan baru tidak masalah, karyawan tidak termotivasi untuk meletakkan etika internal mereka menyisihkan untuk mengejar uang.


2.     Kesalingtergantungan antara bisnis dan masyarakat
            Bisnis melibatkan hubungan ekonomi dengan banyak kelompok orang yang dikenal sebagai stakeholders, yaitu pelanggan, tenaga kerja, stockholders, suppliers, pesaing, pemerintah dan komunitas. Oleh karena itu para pebisnis harus mempertimbangkan semua bagian dari stakeholders dan bukan hanya stockholdernya saja. Pelanggan, penyalur, pesaing, tenaga kerja dan bahkan pemegang saham adalah pihak yang sering berperan untuk keberhasilan dalam berbisnis. Lingkungan bisnis yang mempengaruhi perilaku etika adalah lingkungan makro dan lingkungan mikro. Sebagai bagian dari masyarakat, tentu bisnis tunduk pada norma-norma yang ada pada masyarakat.
            Tata hubungan bisnis dan masyarakat yang tidak bisa dipisahkan itu membawa serta etika-etika tertentu dalam kegiatan bisnisnya, baik etika itu antara sesama pelaku bisnis maupun etika bisnis terhadap masyarakat dalam hubungan langsung maupun tidak langsung. Dengan memetakan pola hubungan dalam bisnis seperti itu dapat dilihat bahwa prinsip-prinsip etika bisnis terwujud dalam satu pola hubungan yang bersifat interaktif. Etika bisnis merupakan penerapan tanggung jawab sosial suatu bisnis yang timbul dari dalam perusahaan itu sendiri. Bisnis selalu berhubungan dengan masalah-masalah etis dalam melakukan kegiatan sehari-hari. bisnis dengan masyarakat umum juga memiliki etika pergaulan yaitu etika pergaulan bisnis.

Etika pergaulan bisnis dapat meliputi beberapa hal antara lain adalah :

a.       Hubungan antara bisnis dengan langganan / konsumen
            Hubungan antara bisnis dengan langgananya adalah hubungan yang paling banyak dilakukan, oleh karena itu bisnis haruslah menjaga etika pergaulanya secara baik.
Adapun pergaulannya dengan langganan ini dapat disebut disini misalnya saja :
·         Kemasan yang berbeda-beda membuat konsumen sulit untuk membedakan atau            mengadakan perbandingan harga terhadap produknya.
·         Bungkus atau kemasan membuat konsumen tidak dapat mengetahui isi didalamnya.
·         Pemberian servis dan terutama garansi adalah merupakan tindakan yang sangat etis bagi suatu bisnis.

b.      Hubungan dengan karyawan
            Manajer yang pada umumnya selalu berpandangan untuk memajukan bisnisnya sering kali harus berurusan dengan etika pergaulan dengan karyawannya. Pergaulan bisnis dengan karyawan ini meliputi beberapa hal yakni : Penarikan (recruitment), Latihan (training), Promosi atau kenaikan pangkat, Transfer, demosi (penurunan pangkat) maupun lay-off atau pemecatan / PHK (pemutusan hubungan kerja).

c.       Hubungan antar bisnis
            Hubungan ini merupakan hubungan antara perusahaan yang satu dengan perusahan yang lain. Hal ini bisa terjadi hubungan antara perusahaan dengan para pesaing, grosir, pengecer, agen tunggal maupun distributor.

d.      Hubungan dengan Investor
            Perusahaan yang berbentuk Perseroan Terbatas dan terutama yang akan atau telah “go publik” harus menjaga pemberian informasi yang baik dan jujur dari bisnisnya kepada para insvestor atau calon investornya. prospek perusahan yang go public tersebut. Jangan sampai terjadi adanya manipulasi atau penipuan terhadap informasi terhadap hal ini.

e.       Hubungan dengan Lembaga-Lembaga Keuangan
            Hubungan dengan lembaga-lembaga keuangan terutama pajak pada umumnya merupakan hubungan pergaulan yang bersifat finansial.

3.     Kepedulian Pelaku Bisnis Terhadap Etika
            Para pelaku bisnis diharapkan dapat mengaplikasikan etika bisnis dalam menjalankan usahanya. Dengan adanya etika bisnis yang baik dari suatu usaham maka akan memberikan suatu nilai positif untuk perusahaannya. Hal ini sangatlah penting dami meningkatkan ataupun melindungi reputasi perusahaan tersebut sehingga bisnis yang dijalankan dapat berjalan dengan baik, bahkan dapat meningkatkan cangkupan bisnis yang terkait. Dalam menciptakan etika bisnis, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan, antara lain adalah :

Ø  Pengendalian diri
            Pelaku-pelaku bisnis dan pihak yang terkait mampu mengendalikan diri mereka masing-masing untuk tidak memperoleh apapun dari siapapun dan dalam bentuk apapun. Disamping itu, pelaku bisnis sendiri tidak mendapatkan keuntungan dengan jalan main curang dan menekan pihak lain.

Ø  Pengembangan Tanggung Jawab Sosial
            Pelaku bisnis harus mampu mengembangkan dan memanifestasikan sikap tanggung jawab masyarakat sekitarnya. Tanggung jawab sosial bisa dalam bentuk kepedulian terhadap masyarakat, terutama dalam hal pendidikan, kesehatan, pemberian pelatihan keterampilan, dan lain sebagainya.

Ø  Mempertahankan Jati Diri dan tidak mudah terombang-ambing oleh pesatnya perkembangan TI.
            Bukan berarti etika bisnis anti pekembangan informasi dan terknologi, tetapi informasi dan teknologi itu harus dimanfaatkan untuk kepentingan kepedulian bagi golongan yang lemah dan tidak kehilangan budaya yang dimiliki akibat adanya tranformasi informasi dan teknologi.
Ø  Menciptakan persaingan yang sehat
Persaingan dalam dunia bisnis perlu untuk meningkatkan efisiensi dan kualitas, tetapi persaingan tersebut tidak mematikan yang lemah, dan sebaliknya harus terdapat jalinan yang erat antara pelaku bisnis besar dan golongan menengah kebawah, sehingga dengan perkembangannya perusahaan besar mampu memberikan spread effect terhadap perkembangan sekitarnya.

Ø  Menerapkan konsep "pembangunan berkelanjutan"
Dunia bisnis seharusnya tidak memikirkan keuntungan hanya pada saat sekarang, tetapi perlu memikirkan bagaimana dengan keadaan dimasa mendatang.


Ø  Menghindari sifat 5K (Katabelece, Kongkalikong, Koneksi, Kolusi, dan Komisi)
Jika pelaku bisnis sudah mampu menghindari sikap seperti ini, kita yakin tidak akan terjadi lagi apa yang dinamakan dengan korupsi, manipulasi dan segala bentuk permainan curang dalam dunia bisnis ataupun berbagai kasus yang mencemarkan nama bangsa dan negara.

Ø  Mampu menyatakan yang benar itu benar

Ø  Menumbuhkan sikap saling percaya
            Untuk menciptakan kondisi bisnis yang "kondusif" harus ada saling percaya           antara golongan pengusaha kuat dengan golongan pengusaha lemah agar       pengusaha lemah mampu berkembang bersama dengan pengusaha lainnya      yang sudah besar dan mapan.

Ø  Konsekuen dan Konsisten dengan aturan main yang telah disepakati bersama.

4.      PERKEMBANGAN DALAM ETIKA BISNIS
            Perhatian etika untuk bisnis dapat dikatakan seumur dengan bisnis itu sendiri. Perbuatan-perbuatan yang selama ini sering ada dalam dunia bisnis sendiri, selalu berkaitan dengan etika, seperti mengurangi timbangan atau takaran, menipu dalam bisnis merupakan contoh-contoh kongkrit adanya hubungan antara etika dan bisnis. Namun demikian bila menyimak etika bisnis seperti dikaji dan dipraktekan sekarang, tidak bisa disangkal bahwa terdapat fenomena baru dimana etika bisnis mendapat perhatian yang besar dan intensif sampai menjadi status sebagai bidang kajian ilmiah yang berdiri sendiri. Masa etika bisnis menjadi fenomena global pada tahun 1990-an, etika bisnis telah menjadi fenomena global dan telah bersifat nasional, internasional dan global seperti bisnis itu sendiri.
            Etika bisnis telah hadir di Amerika Latin , ASIA, Eropa Timur dan kawasan dunia lainnya. Di Jepang yang aktif melakukan kajian etika bisnis adalah institute of moralogy pada universitas Reitaku di Kashiwa-Shi. Di india etika bisnis dipraktekan oleh manajemen center of human values yang didirikan oleh dewan direksi dari indian institute of manajemen di Kalkutta tahun 1992. Di indonesia sendiri pada beberape perguruan tinggi terutama pada program pascasarjana telah diajarkan mata kuliah etika isnis. Selain itu bermunculan pula organisasi-organisasi yang melakukan pengkajian khusus tentang etika bisnis misalnya lembaga studi dan pengembangan etika usaha indonesia (LSPEU Indonesia) di jakarta.

5.      ETIKA BISNIS DAN AKUNTANSI
            Dalam menjalankan profesinya seorang akuntan di Indonesia diatur oleh suatu kode etik profesi dengan nama kode etik Ikatan Akuntan Indonesia. Kode etik Ikatan Akuntan Indonesia merupakan tatanan etika dan prinsip moral yang memberikan pedoman kepada akuntan untuk berhubungan dengan klien, sesama anggota profesi dan juga dengan masyarakat. Selain dengan kode etik akuntan juga merupakan alat atau sarana untuk klien, pemakai laporan keuangan atau masyarakat pada umumnya, tentang kualitas atau mutu jasa yang diberikannya karena melalui serangkaian pertimbangan etika sebagaimana yang diatur dalam kode etik profesi. Akuntansi sebagai profesi memiliki kewajiban untuk mengabaikan kepentingan pribadi dan mengikuti etika profesi yang telah ditetapkan.
            Kewajiban akuntan sebagai profesional mempunyai tiga kewajiban yaitu; kompetensi, objektif dan mengutamakan integritas. Kasus enron, xerok, merck, vivendi universal dan bebarapa kasus serupa lainnya telah membuktikan bahwa etika sangat diperlukan dalam bisnis. Tanpa etika di dalam bisnis, maka perdaganan tidak akan berfungsi dengan baik. Kita harus mengakui bahwa akuntansi adalah bisnis, dan tanggung jawab utama dari bisnis adalah memaksimalkan keuntungan atau nilai shareholder. Tetapi kalau hal ini dilakukan tanpa memperhatikan etika, maka hasilnya sangat merugikan. Banyak orang yang menjalankan bisnis tetapi tetap berpandangan bahwa, bisnis tidak memerlukan etika.


DAFTAR PUSTAKA